bahasa indonesia

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Bahasa merupakan alat pemersatu sebuah bangsa yang keberadaannya sangat berpengaruh bagi keadaan sosial masyarakat suatu bangsa. Di samping alat pemersatu, bahasa merupakan suatu keadaan yang menuntut masyarakat suatu bangsa untuk melakukan aktifitas mereka sehari-hari. Namun, dalam satu Negara banyak suku bangsa yang menyebabkan keanekaragaman suatu bahasa dan adapt, sehingga menyebabkan pemimpin suatu Negara harus memilih suatu bahasa yang bisa dimengerti oleh rakyatnya.

Menurut Chaer unsur yang paling penting dalam bahasa “Tanpa kata mungkin tidak ada bahasa”oleh karena itu kata adalah perwujudan dari bahasa dan bahasa merupakan alat komunikasi.[1]

Dalam hal ini kita contohkan kepada bahasa kita sendiri yaitu Bahasa Indonesia, yang mana bahasa tersebut merupakan bahasa pemersatu seluruh suku bangsa yang ada di Indonesia. Dalam kaitannya dengan bahasa pemersatu, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang mudah dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat bangsa Indonesia, meskipun ada beberapa kelompok masyarakat yang belum memahami bahasa Indonesia.

Meskipun bahasa Indonesia dikatakan bahasa pemersatu seluruh suku bangsa yang ada di Negara Indonesia, banyak masyarakatnya yang tidak paham akan asal usul bahasa Indonesia tersebut menjadi berkurang.

Oleh karena itu penulis memilih judul “Asal – Usul dan Perkembangan Bahasa Indonesia” untuk mengantisipasi keadaan tersebut maka sudah sewajarnya warga Negara Indonesia harus mengetahui asal usul bahasa Indonesia.

B.     Rumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

1.      Bagaimana sumber bahasa Indonesia ?

2.      Kapan peresmian nama Bahasa Indonesia ?

3.      Mengapa bahasa Melayu diangkat sebagai bahasa Indonesia ?

4.      Kapan peristiwa penting yang berkaitan dengan perkembangan bahasa Indonesia atau melayu?

5.      Apa kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia ?

C.    Tujuan Masalah

Dalam penulisan makalah tentunya memiliki tujuan, begitu juga dengan makalah ini bertujuan untuk :

1.      Mengerti dan memahami sumber bahasa Indonesia.

2.      Mengetahui peresmian bahasa Indonesia.

3.      Mengerti tentang diangkatnya Bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia.   .

4.      Mengetahui peristiwa penting yang berkaitan dengan perkembangan bahasa Indonesia atau melayu.

5.      Mengerti dan Memahami kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia untuk mempermudah belajar dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Sumber Bahasa Indonesia

Apabila ingin membicarakan perkembangan bahasa indonesia, mau tidak mau kita harus membicarakan bahasa Melayu sebagai sumber atau (asal) bahasa indonesia yang kita pergunakan sekarang. Bahasa indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa melayu, yang sejak dahulu sudah dipakai sebagai bahasa perantara (lingua franca) bukan saja di kepulauan nusantara, melainkan juga hampir di seluruh Asia Tenggara.

Pertanyaan yang mungkin timbul adalah kapan sebenarnya bahasa Melayu mulai dipergunakan sebagai alat komunikasi .Berbagai batu tertulis (prasasti) kuno yang ditemukan, seperti (1)Prasasti Kedukan Bukit di Palembang, tahun 683,(2) Prasasti Talang Tuo di Palembang, tahun 684, (3) Prasasti Kota Kapur di Bangka Barat, tahun 686, yang bertuliskan Prae – Nagari dan Bahasanya, bahasa Melayu kuno,memberi petunjuk kepada kita bahwa bahasa Melayu  dalam bahasa bentuk bahasa Melayu kuno sudah dipakai sebagai alat komunikasi pada zaman Sriwijaya. Prasasti – prasasti yang juga tertulis didalam bahasa Melayu kuno terdapat di Jawa Tengah (prasasti Gandosuli,tahun 832) dan di Bogor (prasasti Bogor,tahun 942). Kedua prasasti di Pulau Jawa ini memperkuat pula dugaan kita bahwa bahasa Melayu kuno pada waktu itu bukan saja dipakai di Pulau Sumatra,melainkan juga di Pulau Jawa.

Berikut ini dikutipkan sebagian bunyi batu bertulis (prasasti) Kedukan Bukit.

swastie syrie syaka warsaatieta 605 ekadasyii syuklapaksa wulan waisyaakha dapunta hyang naayik disaamwan mangalap siddhayaatra di saptamie syuklapaksa wulan jyestha dapunta hyang marlapas dari minanga taamwan……”

“Selamat! Pada tahun syaka 605 hari yang kesebelas pada masa terang bulan waisyaaka,tuan kita yang mulia naik diperahu menjemput siddhayaatra. Pada hari ketujuh,pada masa terang bulan jyestha,tuan kita yang mulia berlepas dari minanga taamwan……..”

Kalau kita perhatikan dengan seksama,ternyata dalam prasasti itu terdapat kata-kata (dicetak dengan huruf miring )yang masih kita pakai sekarang walaupun sudah berlalu lebih dari 1300 tahun.

Perlu juga kita ketahui, menurut sejarah, pada waktu itu Sriwijaya memiliki pengaruh besar, bukan saja di Indonesia, melainkan juga disebagian besar Asia Tenggara. Oleh sebab itu, bukan mustahil pemakaian bahasa Melayu (kuno) meliputi pula sebagian besar daerah Asia Tenggara, termasuk Malaka. Sriwijaya yang pada waktu itu sebagai pusat kebudayaan dan studi filsafat, pusat agama budha,dan sebagai pusat perdagangan, ramai dikunjungi pendatang dari berbagai negeri, termasuk cina. Dalam berbagai kegiatan diatas, bahasa Melayu memainkan peranan yang amat penting, yaitu sebagai alat komunikasi dan sebagai bahasa pengantar dalam mengajarkan agama.

Bedasarkan petunjuk-petunjuk lainnya, dapatlah kita ketahui bahwa pada zaman Sriwijaya bahasa Melayu berfungsi sebagai berikut:

1)      Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa kebudayaan, yaitu berisi aturan-aturan hidup dan sastra

2)      Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahas perhubungan (linguanya)di Indonesia.

3)      Bahasa Melayu berfungsi sebagi bahasa perdagangan, terutama di tepi-tepi pantai, baik antar suku yang ada di Indonesia maupun terhadap pedagang-pedagang yang datang dari luar Indonesia.

4)      Bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa resmi kerajaan.

Sejak zaman Sriwijaya bahasa Melayu terus mengalami perkembangan dan perubahan, baik mengenai fungsinya maupun mengenai bentuk dan strukturnya.

Perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia itu sebenarnya berlangsung secara perlahan-lahan, tetapi terus menerus. Kalau kita perhatikan bahasa yang kita gunakan dewasa ini memang tidak lagi sama dengan bahasa Melayu yang dipakai pada zaman Tun Muhammad Sri Lanang atau pada zaman Abdullah Bin Abdul Kadir Munsyi. Demikian pula halnya, bahasa Indonesia sekarang tidak sama dengan bahasa Melayu pada zaman balai pustaka dan juga tidak sama dengan bahasa Indonesia pada zaman pujangga baru. Perbedaan-perbedaannya itu disebabkan oleh pengaruh, baik pengaruh luar maupun pengaruh dalam. Pengaruh luar akibat pengaruh bahasa asing, seperti bahasa Sansekerta, Arab, Cina, Portugis, Inggris, dan Belanda, sedangkan pengaruh dalam akibat pengaruh bahasa daerah, seperti bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Minangkabau. Dengan kata lain, bahasa Indonesia dengan perlahan-lahan tetapi pasti, berkembang dan tumbuh terus. Pada waktu akhir-akhir ini perkembangannya itu menjadi demikian pesatnya sehinggga bahasa ini telah menjelma menjadi bahasa modern, yang kaya akan kosa kata dan mantap dalam struktur.

B.     Peresmian Nama Bahasa Indonesia

Tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda kita mengikrarkan Sumpah Pemuda. Naskah kongres pemuda indonesia tahun 1928 itu berisi tiga butir kebulatan tekad sebagai berikut :

Pertama: Kami putra putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah indonesia

Kedua: Kami putra dan putri indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa indonesia.

Ketiga: Kami putra dan putri indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa indonesia.

Pernyataan yang pertama adalah pengakuan bahwa pulau-pulau yang bertebaran dan lautan yang menghubungkan pulau-pulau yang merupakan wilayah Republik. Indonesia sekarang adalah satu kesatuan tumpah darah, yang disebut tanah air indonesia. Pernyataan yang kedua adalah pengakuan bahwa manusia-manusia yang menempati bumi indonesia itu juga merupakan satu kesatuan, yang disebut bangsa indonesia. Pernyataan ketiga tidak merupakan pengakuan”berbahasa satu”, tetapi merupakan pernyataan tekad kebahasan yang menatakan bahwa kita, bangsa indonesia, menjunjung tinggi bahas persatuan, yaitu bahasa indonesia.

Dengan diikrarkannya Sumpah Pemuda, resmilah bahasa melayu yang sudah dipakai sejak pertengahan Abad VII itu, menjadi bahasa Indonesia. Nama baru, yaitu bahasa indonesia, bersifat politis, sejalan dengan nama negara merdeka yang diidam-idamkan negera indonesia. Sumpah ini merupakan keputusan politik yang pertama mengenai bahasa indonesia, keputusan yang mencerminkan kebulatan tekad dan cita-cita perjuangan mewujudkan bahasa persatuan,bahasa indonesia. Dengan keputusan ini diletakkanlah untuk pertama kali arah perkembangan dan pengembangan bahasa indonesia.

C.    Bahasa Melayu Diangkat Menjadi Bahasa Indonesia

Slamet Mulyana mengemukakan empat faktor yang merjadi penyebab bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia, yaitu sebagai berikut :

Pertama, bahasa Melayu sudah merupakan lingua franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdagangan. Setelah Sriwijaya mengalami kemuduran, kegiatan perdagangan berpindah ke Malaka. Malaka pada masa jayanya, selain menjadi pusat perdagangan juga menjadi pusat pengembangan agama Islam. Dengan bantuan para pedagang dan penyebar agama, bahasa Melayu disebarkan ke seluruh Nusantara, terutama daerah pantai dan kota-kota pelabuhan. Bahasa Melayu sudah menjadi bahasa penghubung antar individu sebagian besar penduduk Indonesia.

Kedua, bahasa Melayu mempunyai sistem yang sederhana jika ditinjau dari segi fonologi (bunyi-bunyi bahasa), morfologi (bentuk-bentuk kata), dan sintaksis (bentuk-bentuk kalimat). Karena sistemnya yang sederhana itu, bahasa Melayu mudah dipelajari. Dalam bahasa ini tidak dikenal tingkatan bahasa seperti dalam bahasa Jawa (ngoko,kromo) atau perbedaan bahasa yang kasar dan halus seperti dalam bahasa Sunda (kasar,lemes).

Ketiga faktor psikologis, yaitu suku bangsa Jawa, Sunda, dan suku-suku lainnya dengan suka rela menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Hal itu berarti bahwa kita mengabaikan semangat dan rasa kesukuan karena sadar akan perlunya kesatuan dan persatuan.

Keempat, kesanggupan bahasa itu sendiri untuk dapat dipakai menjadi bahasa kebudayaan dalam arti yang luas. Kenyataan membuktikan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang dapat dipakai untuk merumuskan pendapat secara tepat dan mengutarakan perasaan secara jelas.

D.    Peristiwa-Peristiwa Penting Yang Berkaitan dengan Perkembangan Bahasa Melayu/Indonesia

Sehubungan dengan perkembangan bahasa Indonesia, ada beberapa masa dan tahun bersejarah yang penting, yakni:

1.  Masa kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-7. pada waktu itu Bahasa Indonesia yang masih bernama bahasa melayu telah digunakan sebagai Lingua Franca atau bahasa penghubung, bahasa pengantar. Bukti historis dari masa ini antara lain prasasti atau batu bertulis yang ditemukan di kedukan bukit, Kota Kapur, Talang Tuo, Karang Brahi yang berkerangka tahun 680 Masehi. Selain ini dapat disebutkan bahwa data bahasa Melayu paling tua justru dalam prasasti yang diemukan di Sojomerta dekat Pekalongan, Jawa Tengah.

2.  Masa kerajaan Malaka, Sekitar abad ke-15. pada masa ini peran bahasa melayu sebagai alat komunikasi semakin penting. Sejarah Melayu karya Tun Muhammad Sri Lanang adalah peninggalan karya sastra tertua yang di tulis pada masa ini. Sekitar tahun 1521, antonio Pigagafetta menyusun daftar kata Italy-Melayu yang pertama. Daftar itu di buat di Tidore dan berisi kata-kata yang dijumpai di sana.

3.      Masa Abdullah Bin Abdulkadir Munsyi, sekitar abad ke-19. Fungsi bahasa Melayu sebagai sarana pengungkap nilai-nilai estetik kian jelas. Ini dapat dilihat dari karya-karya Abdullah seperti Hikayat Abdullah, Kisah Pelayaran Abdullah ke Negeri Jedah, Syair tentang Singapura Dimakan Api, dan Pancatanderan Tokoh lain, yang perlu dicatat disini ialah Raja Ali Haji yang terkenal sebsgai pengarang Gurindam Dua Belas, Silsilah Melayu Bugis, dan Bustanul Katibin.

4.      Pada tahun 1901 diadakan pembakuan ejaan yang pertama kali oleh prof.Ch. Van Ophuysen dibantu Engku Nawawi dan Moh. Taib Sultan Ibrahim. Hasil pembakuan mereka yang dikenal dengan Ejaan Van Ophuysen ditulis dalam buku yang berjudul Kitab Logat Melajoe.

5.      Tahun 1908 pemerintah belanda mendirikan Commissiee Indlandche School en Volkslectuur(komisi Bacaan Sekolah Bumi Putra dan Rakyat) lembaga ini mempunyai andil besar dalam menyebarkan serta mengembangkan bahasa Melayu melalui bahan-bahan bacaan yang diterbitkan untuk umum.

6.      Tahun 1928 tepatnya tanggal 28 Oktober dalam sumpah pemuda, bahasa Melayu diwisuda menjadi bahasa Nasional bangsa Indonesia sekaligus namanya diganti menjadi bahasa indonesia. Alasan dipilihnya bahasa Melayu menjadi bahasa nasional ini didasarkan pada kenyataan bahwa bahasa tersebut(1) Telah dimengerti dan dipergunakan selama berabad-abad sebagai Lingua Franca hampir diseluruh daerah kawasan Nusantara,(2) Strukturnya sederhana sehingga mudah dipelajari dan mudah menerima pengaruh luar untuk memperkaya serta menyempurnakan fungsinya,(3) Bersifat demokratis sehingga menghindarkan kemungkinan timbulnya perasaan senimen dan perpecahan, dan(4) adanya semangat kebangsaan yang lebih besar dari penutur bahasa jawa dan sunda. “Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoejoeng bahasa jang sama, bahasa indonesia”.

7.      Tahun 1933 terbit majalah Poedjangga Baroe yang pertama kali. Pelopor pendiri majalah ini ialah Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane, yang ketiganya ingin dan berusaha memajukan bahasa indonesia dalam segala bidang.

8.      Tahun 1983 dalam rangka peringatan 10 tahun sumpah pemuda diadakan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo, yang dihadiri ahli-ahli bahasa dan para budayawan seperti Ki Hajar Dewantara, Prof. Dr. Purbatjaraka dan Prof, Dr. Husain Djajadiningrat. Dalam kongres ditetapkan keputusan untuk mendirikan Institut Bahasa Indonesia, mengganti ejaan Van Ophuysen, serta menjadikan bahasa indonesia menjadi bahasa pengantar dalam Badan Perwakilan.

9.      Masa pendudukan jepang(1942-1945) pada masa ini peran bahasa indonesia semakin penting karena pemerintah Jepang melarang penggunaan bahasa Belanda yang dianggapnya sebagai bahasa musuh, penguasa jepang terpaksa mengangkat bahasa indonesia sebagai bahasa resmi dalam adminisrasi pemerintahan dan bahasa pengantar di Lembaga pendidikan, karena bahasa jepang sendiri belum banyak dimengerti oleh bangsa indonesia. Untuk mengatasi berbagai kesulitan, akhirnya kantor pengajaran jepang mendirikan Komisi Bahasa Indonesia.

10.  Tahun 1945, tepatnya 18 Agustus bahasa indonesia diangkat sebagai bahasa negara, sesuai dengan bunyi UUD 45, Bab XV, pasal 36: Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia.

11.  Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan pemakaian Ejaan Repoeblik sebagai panyempurnaan ejaan sebelumnya ejaan ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ejaan Soewandi.

12.  Balai bahasa yang dibentuk wont 1948 yang kemudian namanya diubah menjadi Lembaga Bahasa Nasional (LBN) tahun 1968, dan dirubah lagi menjadi pusat pembinaan dan pengembangan bahasa pada 1972 adalah lembaga yang didirikan dalam rangka usaha pemantapan perencanaan bahasa.

13.  Atas prakarsa Mentri PP dan K, Mr.Moh.Yamin, Kongres Bahasa Indonesia kedua diadakan di Medan tanggal 28 Oktober sampai dengan 1 November 1945. Dalam kongres ini disepakati suatu rumusan bahwa bahasa indonesia berasal dari bahasa Melayu, tetapi bahasa indonesia berbeda dari bahasa Melayu karena bahasa indonesia adalah bahasa melayu yang sudah disesuaikan pertumbuhannya dengan masyarakat indonesia sekarang.

14.  Tahun 1959 ditetapkan rumusan Ejaan Malindo, sebagai hasil usaha menyamakan ejaan bahasa indonesia dengan bahasa melayu yang digunakan persekutuan Tanah Melayu. Akan tetapi, karena pertentangan politik antara indonesia dan Malaysia, ejaan tersebut menjadi tidak pernah diresmikan pemakaiannya.

15.  Tahun 1972, pada tanggal 17 Agustus, diresmikan pemakaian Ejaan Yang disempurnakan yang disingkat EYD. Ejaanyang pada dasarnya adalah hasil penyempurnaan dari ejaan Bahasa Indonesia yang dirancang oleh panitia yang diketuai oleh A.M.Moeliono juga digunakan di Malaysia dan berlaku hingga sekarang.

16.  Tahun 1978, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-50.bulan November di jakarta diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III. Kongres ini berhasil mengambil keputusan tentang pokok-pokok pikiran mengenai masalah pembinaan dan pengembangan bahasa indonesia. Diantaranya ialah penetapan bulan September sebagai bulan bahasa.

17.  Tanggal 21-26 November 1983, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, berlangsung Kongres Bahasa Indonesia IV. Kongres yang dibuka oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof.Dr.Nugroho Notosusanto, berhasil merumuskan usaha-usaha atau tindak lanjut untuk memntapkan kedudukan dan fungsi bahasa indonesia sebagai bahasa nasional dan negara.

18.  Dengan tujuan yang sama, di Jakarta 1988,diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia V.

19.  Tahun1993,diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta. Kongres Bahasa Indonesia berikutnya akan diselenggarakan setiap lima tahun sekali.

E.     Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia

Sebagaimana kita ketahui bahwa sesuai dengan ikrar sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928 bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa nasional, dan sesuai dengan bunyi UUD 45, Bab XV,pasal 36 Indonesia juga dinyatakan sebagai bahasa, negara, dan bahasa nasional.

Yang dimaksud dengan kedudukan bahasa ialah status relatif bahasa sebagai sistem lambang nilai budaya, yang dirumuskan atas dasar nilai sosialnya, sedang fungsi bahasa adalah nilai pemakaian bahasa tersebut di dalam kedudukan yang diberikan.

Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Nasional sehubungan dengan kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki 4 fumgsi yaitu:

1.      Lambang identitas nasional

2.      Lambang kebanggaan nasional

3.      Alat pemersatu berbagai masyarakat yang mempunyai latar belekang sosial budaya dan bahasa yang berbeda-beda.

4.      Alat perhubungan antar budaya dan daerah

Fungsi Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara berkaitan dengan statusnya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai :

1.      Bahasa resmi negara.

2.      Bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan.

3.      Bahasa resmi dalam perhubungan tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan,dan

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Apabila ingin membicarakan perkembangan bahasa indonesia, mau tidak mau kita harus membicarakan bahasa Melayu sebagai sumber atau (asal) bahasa indonesia yang kita pergunakan sekarang. Perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia itu sebenarnya berlangsung secara perlahan-lahan, tetapi terus menerus.

Dengan diikrarkannya Sumpah Pemuda, resmilah bahasa melayu yang sudah dipakai sejak pertengahan Abad VII itu, menjadi bahasa Indonesia. Nama baru, yaitu bahasa indonesia, bersifat politis, sejalan dengan nama negara merdeka yang diidam-idamkan negera indonesia

Slamet Mulyana mengemukakan empat faktor yang merjadi penyebab bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia, yaitu sebagai berikut :

1.  Bahasa Melayu sudah merupakan lingua franca di Indonesia, bahasa

perhubungan dan bahasa perdagangan.

2.  bahasa Melayu mempunyai sistem yang sederhana jika ditinjau dari segi

fonologi (bunyi-bunyi bahasa), morfologi (bentuk-bentuk kata), dan sintaksis (bentuk-bentuk kalimat).]

3.  faktor psikologis, yaitu suku bangsa Jawa, Sunda, dan suku-suku lainnya dengan suka rela menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional

4.  kesanggupan bahasa itu sendiri untuk dapat dipakai menjadi bahasa kebudayaan dalam arti yang luas

Sebagaimana kita ketahui bahwa sesuai dengan ikrar sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928 bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa nasional, dan sesuai dengan bunyi UUD 45, Bab XV,pasal 36 Indonesia juga dinyatakan sebagai bahasa, negara, dan bahasa nasional.

B.     Saran

Untuk memperoleh pengetahuan tentang bahasa indonesia yang secara menyeluruh, maka sangat dibutuhkan pendidikan yang bisa mengulas lebih mendalam tentang bahasa. Serta dibutuhkan pula pendidikan yang bisa melestarikan bahasa indonesia sebagai bahasa yang mudah dipahami oleh semua kalangan masyarakat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zaenal dan S. Amran Tasai 2004. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Presindo

 

 


[1] Chaer, 2006 : 86 – 196

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s